Bioteknologi : Harapan atau Bencana?

Bioteknologi merupakan teknologi yang penerapannya menggunakan pemanfaatan organisme hidup atau produk-produk dari aktivitas organisme yang bertujuan untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi kesejahteraan umat manusia dan lingkungannya.

Pada dasarnya bioteknologi bukanlah suatu teknologi yang baru bagi peradaban manusia. Pembuatan tempe, kecap, oncom, tape, arak dan lain sebagainya di Indonesia telah lama berkembang dengan memanfaatkan aktivitas jasad renik alami (indigenous) yang berdasarkan hasil dan dampaknya lebih ramah dengan lingkungan.

Dewasa ini, bioteknologi (alami) tersebut mulai tergeser dengan sifat arogan manusia pada ilmu pengetahuan dan teknologi yang  ingin merekayasa kehidupan ini dan bahkan cenderung berlomba mencapai batasan-batasan norma kehidupan dan kaidah-kaidah hukum alam. Adalah bioteknologi rekayasa yang menjadi kebanggaan dengan janji akan membawa peradaban manusia yang lebih baik dan sempurna.

Kecenderungan suatu perubahan dasar siklus kehidupan ekologi alami menjadi siklus rekayasa sebagai ajang lomba paten untuk memenuhi kebutuhan manusia, belumlah dapat digaransi akan memberikan kesejahteraaan bagi umat di dunia. Hal tersebut harus disikapi secara arif dan kita bahas bersama dampak bioteknologi rekayasa pada resiko yang akan timbul dimasa datang, seperti dampak terhadap keanekaragaman hayati, lingkungan, sosial, ekonomi, budaya dan politik.

Sebagai khalifah di muka bumi tidak seharusnya kita mengarahkan akal sebagai karunia-Nya (sebagai pembeda dengan makhluk lainnya, seperti binatang, tumbuhan, dsb), ‘mengakali’ landasan kehidupan atau cenderung mengubah landasan penentu hidup dan kehidupan, seperti halnya mengubah tatanan gen sebagai spesifik suatu organisme, bahkan berupaya mengubah tatanan gen pada manusia, hewan dan tumbuhan, yg semuanya belum tentu dapat memenuhi harapan atau tujuan dari rekayasa itu sendiri. Hal-hal tersebut akan menambah keragaman hayati di muka bumi tanpa menilik kembali kemampuan daya dukung alam ini untuk menampungnya. Akankah terjadi kompetisi ruang, waktu dan bahan pokok organisme alami dengan organisme rekayasa ?

“Dari Kami telah menghamparkan buni dan dan menjadikan padanya gunung-gunung serta Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran”. (al-Hijr:19).

Pengembangan dan penerapan bioteknologi adalah tidak bertentangan dengan kaidah/norma kehidupan termasuk dalam ajaran agama manapun, dan pemanfaatan bioteknologi yang sejalan dengan hukum alam, secara nyata telah memberikan manfaat yang besar bagi hidup dan kehidupan umat manusia dan lingkungannya. Disini terdapat terdapat penekanan bahwa bioteknologi bukanlah alat atau sarana untuk mengubah suatu siklus alami yang telah tercipta, namun sebagai wahana untuk umat manusia yang berfikir untuk melengkapi kebutuhan hidup dengan memanfaatkan, memperbaiki, mengembangkan dan menjaga segala sesuatu di muka bumi bagi kepentingan umat manusia.

“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam, kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya ?” (al-Waaqi’ah: 63-64)

“Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-sekali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya…?” (al-Naml: 19)

Pengalaman perjalanan teknologi umat di muka bumi, dengan dimulainya revolusi industri, revolusi hijau dan satu atau dua dekade terakhir adalah revolusi bioteknologi, telah cukup memberikan banyak pelajaran dalam menganalisa dampak suatu hasil kerja yang dilakukan tanpa keselarasan dengan alam. Hal tersebut memberikan motivasi dan tekad bagi sebagian pemerhati, praktisi dan peneliti untuk mulai mengkonsentrasikan diri pada pengembangan dan penerapan berbagai teknologi kehidupan (bioteknologi) yang bersifat alamiah dan tanpa rekayasa, dalam artian bagaimana kita memanfaatkan organisme indigenous (alami) mikroba, yang kemudian menseleksi efektifitasnya, dan selanjutnya mengembangkannya serta mengembalikan kepada alam sesuai dengan kehendak dan tujuan. Hal tersebut merupakan cara bagaimana kita menjaga populasi mikroorganisme yang alami dan sesuai dengan peruntukannya.

Peran serta masyarakat dan penentu/pengambil kebijakan dalam upaya menjaga dan mengembangkan keanekaragaman hayati sangat dibutuhkan, hal ini bukan semata-mata ada kepentingan atau oleh sekelompok orang/organisasi, namun lebih jauh untuk menjaga/mempertahankan keseimbangan ekosistem alami dengan keragaman organisme dari pergeseran (penjajahan total) akibat arus bioteknologi (rekombinan) yang belum kita ketahui dampaknya untuk masa yang akan datang terhadap keberlanjutan umat manusia dan alam ini.


*** Ir. Anom Wibisono HS.

0 Comments